Tak Hanya 90 Menit, Persib Terus Berupaya Jadi Entitas Sosial Masyarakat

dok. Persib Bandung

Gelaran PERSIBDAY Festival 2025 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (12/10), menjadi lebih dari sekadar perayaan tahunan bagi Bobotoh.

Ribuan pengunjung yang hadir sejak pagi menunjukkan bagaimana sebuah kegiatan olahraga kini bisa bertransformasi menjadi medium sosial dan edukatif, mencerminkan arah baru manajemen Persib dalam membangun hubungan jangka panjang dengan komunitas pendukungnya.

Didukung oleh Indofood, Indomie, dan Maxicorn, acara ini menjadi proyek perdana yang menggabungkan aspek hiburan, pembelajaran, dan interaksi publik dalam satu wadah.

Persib tampak berupaya menempatkan dirinya bukan hanya sebagai klub sepak bola, melainkan juga sebagai entitas sosial yang aktif di tengah masyarakat.

Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, menegaskan hal itu melalui pandangan yang merefleksikan visi manajemen.

“PERSIBDAY Festival ini adalah upaya kami untuk menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat. Kami ingin menunjukkan bahwa Persib bukan hanya tentang 90 menit di lapangan, tapi juga tentang ekosistem yang tumbuh dan hidup bersama para pendukungnya,” ujar Adhitia.

Rangkaian kegiatan yang dihadirkan memperlihatkan pola pendekatan partisipatif. Sejak pukul 06.00 WIB, peserta mengikuti coaching clinic, meet & greet dengan pemain, hingga tur stadion yang untuk pertama kalinya dibuka bagi publik.

Coaching clinic menjadi salah satu titik penting dalam acara ini, diikuti 200 anak berusia 10–14 tahun yang berlatih bersama empat pemain utama, yakni Luciano Guaycochea, Uilliam Barros, Julio Cesar, dan Adam Alis, dengan pendampingan dari I Made Wirawan dan Yaya Sunarya.

Bagian tur stadion juga dirancang bukan sekadar untuk melihat fasilitas, tetapi untuk menumbuhkan kedekatan emosional generasi muda terhadap klub.

Momen ketika anak-anak memasuki ruang ganti baru Persib menjadi simbol kuat dari hal itu. Ruangan dengan loker biru berlampu LED, lengkap dengan nama dan nomor punggung pemain, memunculkan ekspresi kagum sekaligus mimpi.

Ada yang berlari kecil mencari nama idolanya, ada yang hanya diam tersenyum sambil membayangkan suatu hari mengenakan seragam Persib sungguhan.

Di luar lapangan, konsep kegiatan meluas ke ranah komunitas dan ekonomi lokal. Bazaar UMKM, photobooth tropi kejuaraan, dan pembukaan pendaftaran Akademi Persib menandai bahwa klub juga memberi ruang partisipasi bagi warga dan pelaku usaha.

Menurut Vice President Commercials PT Persib Bandung Bermartabat, Budi Ulia, pendekatan ini menjadi wujud konkret dari model pengelolaan klub modern yang menempatkan ekosistem sebagai inti pengembangan.

“Persib bukan hanya sekadar klub sepak bola. Melalui PERSIBDAY, kami ingin merangkul semua elemen yang ada, termasuk Bobotoh, mitra, dan masyarakat. Alhamdulillah, pilot project pertama ini berjalan lancar, dan antusiasme yang muncul menjadi bukti bahwa Persib selalu ada di hati warganya,” tuturnya.

PERSIBDAY Festival 2025 dengan demikian tidak hanya menegaskan loyalitas Bobotoh, tetapi juga menunjukkan arah strategis klub dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan.

Melalui kegiatan yang terintegrasi antara olahraga, sosial, dan ekonomi, Persib memperlihatkan bagaimana klub sepak bola dapat menjadi pusat interaksi dan identitas masyarakat Bandung modern.

Bagikan:


Lainnya