
Suasana Stadion Si Jalak Harupat di Kabupaten Bandung seketika berubah haru pada malam Jumat, 9 Agustus 2024, ketika tiga nama besar yang pernah menorehkan sejarah bagi Persib Bandung kembali hadir di tribun penonton.
Adeng Hudaya, Dede Rosadi, dan Kosasih, tiga legenda yang membawa Persib ke masa kejayaannya di era 1980-an hingga 1990-an, kali ini hadir bukan sebagai pemain, melainkan sebagai Bobotoh, hendak menyaksikan laga pembuka Liga 1 2024/2025 melawan PSBS Biak.
Bagi ketiganya, langkah mereka menuju tribun VIP Utama bagaikan melintasi waktu, menghidupkan kembali kenangan masa lalu di tengah riuh dukungan pendukung setia Pangeran Biru.
Suara yel-yel, semangat suporter, dan sorak-sorai yang memenuhi stadion tak hanya membangkitkan euforia pertandingan, tetapi juga membuka lembaran lama dari perjalanan karier mereka bersama tim kesayangan.
Di tengah kegempitaan malam itu, Adeng, Dede, dan Kosasih juga disambut oleh pihak manajemen Persib, termasuk Interim Sporting Director Adhitia Putra Herawan, Commercial Director Sandhy Tantra, dan Vice President of Operational Andang Ruhiat.
Tak sampai di situ, momen ini memberi mereka kesempatan tak hanya untuk menikmati suasana stadion, tetapi juga berkumpul dan berbincang dengan rekan-rekan seperjuangan, baik dari masa lalu maupun dari masa kini.


Bagi Adeng, yang pernah menjadi kapten Persib antara 1985 hingga 1993, malam itu terasa seperti memutar kembali babak silam dalam kehidupannya.
“Hati saya berbunga-bunga dan teringat bahwa dulu saya yang di situ (bermain di lapangan),” ujar Adeng, suaranya bergetar sambil mengenang masa-masa emasnya bersama Persib.
“Terus terang, kaki saya geregetan ingin ikut bermain,” imbuhnya sambil tersenyum.
Di tengah antusiasme Bobotoh yang begitu hangat, ia merasakan kebahagiaan yang sederhana namun mendalam, perasaan naluriah yang hanya bisa diungkapkan oleh seorang yang pernah merasakan berseragam biru kebanggaan klub Kota Kembang.
Kosasih, yang untuk pertama kalinya sejak 30 tahun kembali menginjak stadion pun merasakan atmosfer yang sudah lama ia rindukan.
Rasa haru tak dapat ia sembunyikan ketika ia mengamati para pemain muda yang kini mengenakan seragam yang juga dulu ia kenakan dengan penuh rasa bangga.
“Jujur, melihat dan merasakan atmosfer di stadion, rasanya saya ingin muda lagi,” katanya, penuh semangat.
Kini, sebagai pelatih pemain usia dini, Kosasih merasa bangga bisa menyalurkan pengalaman dan semangatnya kepada generasi baru yang sedang tumbuh.
Tak jauh beda dengan Adeng dan Kosasih, Dede Rosadi, legenda lain yang turut hadir, juga merasakan kebahagiaan dan kehormatan yang luar biasa atas undangan ini.
“Senang bisa bernostalgia merasakan kembali sensasi dan suasana di stadion seperti dulu,” ungkapnya.
Di tengah gemuruh stadion, ia mengenang kembali masa-masa ketika ia berlari, berjuang, dan mencetak kenangan di lapangan bersama tim yang dulu dan kini masih ia dukung sepenuh hati.
Tak hanya menjadi momen nostalgia bagi ketiganya, malam itu juga membawa kebanggaan tersendiri bagi para Bobotoh.
Melihat legenda-legenda Persib yang datang kembali untuk mendukung, para suporter terasa diingatkan kembali tentang betapa dalamnya ikatan mereka dengan klub ini, terjalin di antara lapisan waktu dan generasi.
Di antara sorak-sorai dan permintaan foto dari para Bobotoh yang masih mengenali wajah-wajah penuh kenangan itu, ketiga legenda ini berdiri sebagai simbol hidup dari sejarah dan cinta yang terus mengalir untuk Persib.
Bagikan:

