Dua Pilar, Dua Cerita: Dari Ruang Ganti yang Solid hingga Jejak Panjang Sang Naturalisasi

foto: persib.co.id/Sutanto Nurhadi Permana

Kesuksesan Persib Bandung meraih gelar juara Liga 1 2024/25 tak lahir dari satu nama atau momen semata.

Di balik trofi kedua secara beruntun ini, tersimpan kisah-kisah yang saling mengisi, mulai dari harmoni ruang ganti hingga napak tilas perjalanan seorang pemain yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sepak bola Indonesia.

Di tengah sorak sorai perayaan, Victor Igbonefo memandang kembali ke belakang. Bek naturalisasi berdarah Nigeria itu mengenang panjangnya jalan yang telah dilaluinya di sepak bola Indonesia.

Tiga gelar juara bersama Persipura, dua bintang untuk Persib secara back to back, serta pengabdian untuk tim nasional setelah menjadi WNI, menjadi catatan istimewa dalam kariernya.

“Aku bisa katakan sudah (cita-cita sebagai pesepakbola), karena aku dari Nigeria, ditawari naturalisasi dan bermain untuk timnas. Juara di Persipura, main di Liga Champions Asia, main di AFC Cup dan datang di Persib juga juara,” kata Igbonefo.

Di samping itu, kesuksesan Persib meraih back to back champion juga berdiri di atas fondasi yang dibangun secara kolektif.

Kiper Kevin Mendoza mengungkap bahwa kunci utama Persib bisa mempertahankan konsistensi sepanjang musim terletak pada kekompakan tim.

“Saya rasa itu sulit dijelaskan (konsisten di puncak klasemen). Untuk bisa konsisten, menurut saya itu karena kekompakan. Kami punya ruang ganti yang bagus dan saya rasa kami saling mendukung dengan baik, tetap fokus, dan saling mengingatkan bahwa kami harus memberikan yang terbaik di setiap pertandingan,” ujar penjaga gawang bernomor punggung 1 itu.

Soliditas tim itulah yang mengantar Persib memimpin klasemen sejak pekan ke-16 tanpa pernah tergeser hingga akhir musim.

Bagi Mendoza, itu bukan sekadar kerja sama teknis, melainkan suasana positif yang terus terpelihara di dalam skuad.

Ia pun menegaskan bahwa semangat tersebut tetap menyala menjelang laga terakhir musim ini.

“Tentu saja, kami hanya ingin menang, meskipun kami sudah menjadi juara. Tapi selalu terlihat bagus kalau bisa meraih poin lebih banyak dan, semoga, bisa mencatatkan lebih banyak clean sheet sebagai penjaga gawang,” pungkasnya.

Sementara Mendoza dan rekan-rekannya fokus menutup musim dengan catatan sempurna, Igbonefo menyimpan satu cerita yang tak sempat ia raih.

“Apa yang aku tidak dapat adalah piala Copa Indonesia. Karena aku tiga kali main di final, waktu di Persipura dan tiga final itu kalah. Tapi untuk yang lain aku sudah dapat segalanya,” ujarnya dengan nada penuh penerimaan.

Dua cerita dari dua pemain ini menunjukkan bahwa di balik sebuah gelar, tersimpan banyak kisah, tentang kebersamaan yang membuat tim tak tergoyahkan, dan tentang pengorbanan panjang seorang individu yang telah melewati puncak dan jurang dalam kariernya. Dan di antara mereka, Bobotoh menyaksikan bukan hanya kemenangan, tapi perjalanan yang layak dikenang.

Bagikan:


Lainnya